Benar dan Baik

October 19, 2010 Leave a comment

Saya seorang muslim, namun peristiwa hari ini sekali lagi mengingatkan saya bahwa saya bukanlah seorang muslim yang baik.

Yah, hari ini saya mengalami pengalaman yang mungkin tidak akan saya lupakan.

***

Tadi sore adalah hari terakhir pengumpulan tugas besar tahap pertama mata kuliah MK, Manajemen Kosntruksi. Intinya, saya yang menjadi penanggung jawab pencetakan tugas gagal melaksanakannya dengan baik. Akhirnya, yang menjadi korban adalah usaha teman-teman satu kelompok yang menjadi sia-sia.

Peristiwa ini merupakan salah satu korban dilema hidup, “idealisme pribadi” melawan “komunitas”. Mana yang harus didahulukan, sesuatu yang kita ketahui bahwa itu benar, atau kemaslahatan orang banyak?.

Mari kita berkaca pada perjuangan para rasul. Rasul-rasul Allah diberikan hidayah untuk mengetahui kebenaran dan sebagai kewajibannya adalah rasul-rasul tersebut harus menyampaikan kebenaran tersebut pada kaumnya. Dalam menyampaikan kebenaran tersebut rasul-rasul Allah selalu menggunakan metode yang baik, dalam arti tidak membuat umatnya terpaksa untuk menerima kebenaran tersebut. Contoh kecil adalah rasulullah saw, beliau menyampaikan kebenaran tauhidullah kepada kaum quraisy tanpa melakukan pemaksaan. Hal ini dapat kita ketahui dari sebuah riwayat yang menyatakan bagaimana rasulullah itu berdakwah, beliau dilempari kotoran untapun tidak pernah membalas.Conoth lain adalah bagaimana sikap rasulullah saat menjadi pemimpin di Madinah kepada kaum Yahudi, toleransi. Peristiwa fatkhul Makkah juga menjadi suatu gambaran, bahwa rasululllah tidak pernah memaksakan kebenaran kepada umatnya.

Sebagai manusia biasa, hari ini saya justru melakukan hal yang sebaliknya. Saya mengetahui suatu kebenaran, namun saya tidak dapat menyampaikan kebenaran itu dengan cara yang baik, maka yang terjadi adalah ego pribadi muncul dan berusaha untuk menutup diri dari orang lain, buntutnya adalah bencana.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh sahabat saya tadi sore, bahwa harusnya yang kita dahulukan adalah kemaslahatan bersama. Maksudnya adalah kita mencoba untuk menurunkan ego kita, dan menyampaikan kebenaran tersebut secara perlahan-lahan, jika Allah menghendaki insya Allah, Allah akan membukakan pintu hidayahNya. Poin penting yang harus diingat adalah, segala sesuatu membutuhkan proses.

Nampaknya pengalaman hari ini adalah suatu pertanda, bahwa saya semakin jauh dari Allah swt, astaghfirullahaladziim.

Advertisements
Categories: Uncategorized

Quote Today

September 1, 2010 Leave a comment

“Ikhlas itu seperti air yang akan menumbuhkan bibit amal kebaikan, sedangkan riya’ seperti api yang akan menghanguskan amal perbuatan kita menjadi sia-sia belaka”

Categories: Uncategorized

Melupakannya….

August 29, 2010 Leave a comment

Satu hal yang membuatku tidak bisa melupakannya adalah ketika aku ingin melupakan dan menghapus kenangan itu, bayangannya tiba2 menjadi tampak semakin jelas dalam mimpi dan sadarku…

Seandainya aku diijinkan oleh Allah SWT melihat dia, mengetahui bagaimana kabarnya, itu sudah cukup, meskipun ia tidak pernah mengharapkanku menjadi imamnya.

Namun sepertinya perenunganku mendapatkan jawaban, bahwa, cinta justru akan menjadi barakah dan rahmah jika perasaan itu disalurkan ke arah yang benar, hikmahnya adalah kehidupan harusnya menjadi semakin indah karena cinta, namun sebaliknya jika cinta membuatmu lemah, maka itu bukanlah cinta, namun obsesi dan hawa nafsu, yang akan menjadi senjata syaitan untuk menghancurkan hidup manusia.

Mungkin dulu itu pernah menjadi rahmah dan barakah, karena hidupku menjadi ringan dan bersemangat. Namun kini, semua telah lenyap, cinta ini hanya membuatku semakin lemah.

Selamat tinggal dan terima kasih, karena kau pernah menjadi warna yang indah dalam kepingan hidupku.

Categories: renungan

Paradigma Menuntut Ilmu

August 29, 2010 Leave a comment

Malam hari, saat itu aku sedang mengerjakan tugas, mengisi kekosongan waktu libur kuliah. Tiba-tiba seorang kawan lama dari pesantren kilat di Bantul, Jogjakarta, mengirimi aku sms. Menanyakan kabar. Memang, saat itu sudah lama kita tidak saling berkomunikasi, tapi Alhamdulillah, silaturahmi kita tidak pernah terputus hingga saat ini.

Singkatnya, saat itu ia menanyakan kabar, termasuk kabar kuliah. Saat itu pikiranku memang sedang galau dengan prestasi kuliah yang biasa-biasa saja, bahkan dua semester terakhir aku mengalami keterpurukan. Mindsetku saat itu adalah: yang penting mendapatkan prestasi bagus, titik. Saat aku menjawab kabar kuliah aku jawab sms-nya kurang lebih seperti ini

“Waduh, kuliahku mundur dan, wis rong semester ki nilai-nilai podho jeblog”

“Waduh, kuliahku mundur dan, sudah dua semester ini nilai-nilai menurun semua”

Berikutnya ia menjawabnya dengan kalimat yang membuatku kembali mengingat apa makna kuliah, apa itu makna mencari ilmu.

“Ne niate golek ilmu, insya Allah dadi barokah, mbuh bijine apik opo olo. Ning niate golek biji, uripmu bakal ngoyo, ko malah ming muspro, kerono kepinteran kuwi paringane gusti Allah”

“Jika kamu niatnya menuntut ilmu, insya Allah akan jaid barokah, entah nilainya bagus atau jelek. Tapi jika niatmu mencari nilai, hidupmu akan sulit, nanti akan jadi sengsara, karena kepintaran itu pemberian Allah SWT.”

Saat itu aku langsung tersadar, semangat kembali tumbuh memenuhi ruang-ruang dalam hati. Aku bersyukur karena meskipun mungkin tidak banyak sahabat yang menyertaiku dalam amalan menuntut ilmu ini, namun masih ada seorang sahabat lama nan jauh di sana yang masih sanggup memberikan dorongan semangat padku.

Kuakui, selama masa-masa kuliah yang aku anggap cukup berat, dengan persaingan di sebuah institusi yang katanya terbaik bangsa, aku terbawa arus persaingan. Hingga hampir saja mindsetku berubah dari menuntut ilmu lillahita’alaa menjadi mencari nilai untuk dunia, yah bagaimana tidak tergiur, lulusan institusi ini yang memiliki prestasi membanggakan, kebanyakan memiliki masa depan yang pasti dijamin cerah. Tapi setelah apa yang disampaikan sahabatku tersebut, aku menyadari bahwa, dunia ini bukanlah milik manusia, dunia ini milik Allah SWT, dan masa depan manusia Allah SWT yang menentukan, dijamin 99,99%, sisanya tergantung pada ikhtiar manusia itu sendiri untuk berusaha dan meminta pada Allah SWT.

Bagaimanapun juga, kebaikan manusia di dunia ini tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya, termasuk ilmunya, tapi kebaikan manusia itu dilihat dari apa yang telah ia lakukan untuk dunia, amalan-amalannya. Namun bukan berarti aku mengesampingkan ilmu itu sendiri, ilmu tetap merupakan bekal utama yang harus dimiliki untuk menyempurnakan amal manusia. Justru dengan ilmu yang tinggi dan diimbangi amal maka derajat manusia itu insya Allah akan menjadi tinggi di mata Allah. Namun sebaliknya, Ilmu yang tidak bermanfaat akan menjadi suatu bencana besar bagi pemilik ilmu itu sendiri, sebab Allah akan melaknat orang yang memiliki ilmu tapi tidak mengamalkannya, naudzubillahimindzaallik!“.

Semoga tulisan ini menyadarkan sahabat2 penuntut ilmu untuk menuntut ilmu hanya karena Allah SWT, untuk dijadikan bekal amal yang sempurna di sisiNya, Amiin.

“Maha  suci Allah yang di sisiNya kerajaan (semesta alam) dan bagiNya segala ketetapan. Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji, siapakah di antara kalian yang baik amalnya” (QS. Al-Mulk 1-2)”

Categories: renungan

Manfaat Air Putih (Bening)

August 28, 2010 Leave a comment

Dari seorang sahabat (kayak hadits nih blog lama2 🙂 ).

Info Kesehatan (Harus dibaca!)

Tepat waktu untuk minum air putih (bening), akan memaksimalkan efektivitasnya pada tubuh manusia..

– Minum 2 gelas air sesaat setelah bangun tidur akan membantu mengaktifkan kembali organ2 internal.

– Minum 1 gelas air, 30 menit sebelum makan akan membantu proses pencernaan makanan.

– Minum 1 gelas airsebelum mandi akan membantu menurunkan tekanan darah.

– Minumlah 1 gelas air sebelum tidur untuk menghindari stroke atau serangan jantung.

Infokan ini kepada orang yang Anda sayangi..

***

Kata2 terakhir bikin saya ge-er… wkwkwk… 🙂 🙂 🙂

Categories: info

Surat dari Sahabat

August 28, 2010 Leave a comment

Semoga bisa menginspirasi   

“Allah itu Maha Bijaksana. Ketika kita memohon kekuatan, Dia memberi kesulitan-kesulitan untuk diselesaikan agar kita menjadi kuat. Ketika kita memohon kebijakan, Dia memberi persoalan untuk diselesaikan agar kita bijak. Ketika kita memohon keteguhan hati, Dia memberi bahaya untuk diatasi dan ketika kita memohon cinta,  Dia memberi orang-orang bermasalah untuk ditolong. Mungkin kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi kita mendapatkan segala hal yang kita butuhkan. Semua membutuhkan proses dan waktu untuk bisa memberikan hasil yang terbaik”.  

Kata terakhir yang tertulis adalah, “Tetap Semangat Sahabat-Sahabatku!”.”
***
Terima kasih sahabat:).

Categories: inspiration words

Perbedaan Antara Langit dan Bumi

August 28, 2010 Leave a comment

Sore hari, saat itu aku baru pulang dari Plaza Parahyangan, cari jaket, coz jaket kemaren habis ilang, untungnya aja jaketnya berstatus “layak pakai” alias syukurlah masih bisa kepake daripada g ada. Dilemanya g da jaket tuh, klo ke kampus naik motor tanpa jaket rasanya mampus, apalagi klo pulang malam.

Waktu transaksi sama si penjual ditanyain,”Sendirian aja bang??”

ïya”, jawabku.

“ceweknya mana??”, si penjual tanya lagi.

“wah memojokkanku nih si penjual”, batinku. Langsung tanpa basa-basi kujawab, “nggak ah, lama kalo cari barang sama cewek”.

Eh dia terus ngakak sambil meragain kalo jadi cewek milih barang ke sana-sini.

Batinku,”orang belum nikah gini masak punya cewek, emang tinggal bilang cinta sama cewek langsung jadi punya kita??, kayak barang aja??, nggak kan??”

Udah deh OOT-nya…

Pulang dari Plaza Parahyangan Bandung. Mampir ke Sekre KOKESMA, balikin jaketnya temen. Trus ngerasa badan berat banget yah.. ada apakah gerangan???

He… Pantes aja berat, sok jadi mahasiswa teladan sih, bawa buku paket dua sekaligus, ada Diktat Anstruk dari Guru Besar Teknik Sipil ITB “Prof. Dr. Ir. Binsar Harianja, M.Eng”. dan Mekanika Tanah karya “Braja M. Das”, ga kurang dari 2,5 kg total 2 buku tersebut.

Terus aku merenungi, “Hmm.. ada Al-Quran di dalam tas sama dua buku kuliah”

“Klo ditimbang secara dzahir (tampak), jelas kedua buku kuliah lebih berat daripada Al-Quran, tapi klo ditimbang berdasarkan kandungan sudah jelas Al-Quran Lebih berat dari kedua buku kuliah tersebut”.

Yah, begitulah bedanya antara ilmu yang turun dari langit dan ilmu yang kita dapat di bumi, bagaimanapun juga, ilmu kita sebagai manusia terbatas, dan apa kita ketahui semuanya hanya atas izin Allah SWT.

Wallahua’lam…

Categories: renungan